Menu

    Banner by Chann Digital Indonesia Banner by Chann Digital Indonesia

Rutinan Malam Ahad: Meneguhkan Nilai Pesantren dan Akhlak Santri

 


KENDAL__ Sabtu malam Ahad, 16 Mei 2026, suasana khidmat menyelimuti lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah dalam kegiatan rutin mingguan yang senantiasa menjadi sarana mempererat ukhuwah serta memperkuat nilai-nilai keislaman di kalangan santri. Kegiatan yang dilaksanakan setiap satu minggu sekali tersebut diikuti oleh seluruh santri dengan penuh kekhusyukan.

Agenda diawali dengan pembacaan Rotibul Haddad. Wirid tersebut merupakan amalan yang dibawa langsung oleh pendiri Pondok Pesantren Salafiyah, Dr. (HC) KH. Abdul Hamid Muhtarom Ubaidillah, S.Ag., M.M., yang memperoleh sanad dan ijazah langsung dari seorang waliyullah yang masyhur, KH. Abdul Hamid Pasuruan, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan.

Lantunan dzikir dan doa yang menggema dari para santri menciptakan suasana religius yang penuh ketenangan, menjadi pengingat pentingnya mendekatkan diri kepada Allah SWT di tengah kehidupan pesantren.

Usai pembacaan wirid, acara dilanjutkan dengan sambutan dan mauidhoh hasanah dari salah satu Majelis Ndalem, Gus Muhammad Idris Muhtarom, S.Pd., M.Pd. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan makna dan hakikat Salafiyah serta bagaimana seharusnya seorang santri Salafiyah memahami identitas dan perjuangannya.

Beliau menegaskan pentingnya memegang teguh Lima Janji Setia Pon-Pes Salafiyah, yaitu:

1. Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

2. Bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

3. Berpaham Ahlussunnah wal Jamaah Annahdhiyah

4. Taat dan patuh kepada kiai, guru, dan orang tua.

5. Siap sedia berjuang untuk Salafiyah kapan pun dan di mana pun.

Dalam nasihatnya, Gus Idris juga menekankan pentingnya kedisiplinan serta kepatuhan terhadap seluruh peraturan pondok pesantren. Menurut beliau, tata tertib bukan sekadar aturan, melainkan bagian dari pendidikan akhlak dan pembentukan karakter santri.

Tak hanya itu, beliau juga mengingatkan para santri agar senantiasa menjaga barang milik pribadi maupun milik orang lain agar tidak terjadi kehilangan ataupun tertukar. Beliau menegaskan bahwa perbuatan mencuri merupakan tindakan tercela yang sangat dilarang dalam agama Islam.

Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa sesuatu yang haram apabila dikonsumsi akan menjadi bagian dari tubuh manusia dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah:

“sesungguhnya setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka api neraka lebih utama (lebih layak) untuknya.” (HR. At-Tirmidzi).

Kegiatan rutin malam Ahad tersebut diharapkan mampu menjadi media pembinaan spiritual dan moral bagi seluruh santri, sehingga lahir generasi yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga kokoh dalam akhlak, disiplin, dan perjuangan menjaga nilai-nilai Salafiyah.

By Muhammad Mansyur Manaqibi

Posting Komentar

0 Komentar